Rabu, 28 Desember 2016

Mycobacteriosis/Fish TB

Mycobacteriosis/Fish TB
A.  Penyebab : Mycobacterium marinum (air laut) dan M. fortuitum (air tawar)
B.  Karakteristik patogen :
-    Merupakan jenis bakteri gram positif, berbentuk batang pendek dan non-motil;
-              Infeksi bakteri Mycobacterium terjadi umumnya pada ikan yang hidup di lingkungan dengan air yang
 tenang/diam  (stagnant) jenis ikan seperti gurame dan cupang yang hidup pada kondisi air tenang  tersebut sering terinfeksi penyakit Mycobacteriosis;
-    Untuk kolam tadah hujan dan kolam pekarangan dengan sumber air yang minim akan lebih rentan terhadap infeksi jenis penyakit ini;
-    Ikan budidaya yang terinfeksi oleh Mycobacterium menunjukkan tanda-tanda yang variatif, namun sering pula tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali;
-     Serangan penyakit  mycobacteriosis bersifat kronik-sub akut, baik pada ikan air tawar, payau maupun ikan air laut;
-     Suhu Air yang optimum yaitu pada suhu 25–35°C, tetapi masih dapat tumbuh baik pada suhu 18-20°C.

C. Gejala Klinis :
-     Hilangnya nafsu makan ikan, ikan yang dibudidayakan akan menjadi lemah, kurus, mata melotot (exopthalmia) serta pembengkakan tubuh;
-              Bila penyakit  menginfeksi pada kulit, timbul bercak- bercak merah dan
berkembang menjadi luka, sirip dan ekor ikan menjadi geripis;
-    Pada fase infeksi lanjut, secara internal telah terjadi pembengkakan empedu, ginjal dan hati; serta sering ditemukan adanya tubercle/nodule yang berwarna putihkecoklatan;
-    Gejala penyakit       mycobacteriosis tidak selalu tampak, dan bervariasi antar individu ikan yang terserang;
-    Pertumbuhan dan perkembangan ikan menjadi  lambat, warna tubuh menjadi pucat dan tidak indah terutama untuk ikan hias;
-    Lordosis, skoliosis,  ulser dan rusaknya sirip (patah-patah) dapat terjadi pada beberapa ekor ikan yang terserang.

D.  Diagnosa :
-    Isolasi dengan menggunakan media selektif, dan diidentifikasi melalui uji bio- kimia;
- Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR);

E. Pengendalian :
-    Penggunaan vaksin anti Mycobacterium fortuitum;
     Desinfeksi pada sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan;
-    Pemberian   unsur    immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan;
-    Ikan yang terinfeksi penyakit segera diambil dan dimusnahkan;
-     harus dihindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut;
-     Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organic yang terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi Penggantian air baru;
-     Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan,lingkungan dan patogen);
-     Pengobatan herbal dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman:

    1. Kipahit (Picrasma javanica)
Dengan cara: Kipahit dicacah hingga halus 1 g daun kipahit dan dicampur dengan 1.000 L air untuk perendaman ikan yang sakit selama 3 jam;
     2. Kirinyuh (Chromolaena ordorata)