Selasa, 20 September 2016

Ikan Belut

Belut

Belut merupakan bahan pangan yang memiliki nilai giji yang tinggi.
Belut hidup di rawa-rawa atau sawah
Klasifikasi belut :
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Synbrachiformes
Famili : Synbranchidae
Genus : Monopterus / Fluta
Spesies : Monopterus albus/Fluta alba

Di perairan Indonesia, hanya ada 3 spesies ikan belut yaitu Monopterus albus/Fluta alba (belut sawah), Ophisternon bengalense/Synbrachnus bengalensis (belut rawa), Macrotema caligans (belut).

Nilai Optimal Kualitas air untuk budidaya belut :
Suhu ​0​C   = 25 - 32
pH            = 6 - 8
OKsigen terlarut (mg/L) = 3 - 7
Karbondioksida  (mg/l) = < 5
Amonia (mg/l)  = < 0,016
Nitrit (mg/l) = < 0,016
kecerahan (cm) = 0 - 45  


Belut termasuk hewan yang hermaphroditisme, yaitu hewan ​yang dapat berganti kelamin atau memiliki kelamin ganda. Belut ini termasuk kedalam golongan hermaprodit protogini ​yaitu setelah mencapai ukuran tertentu akan berganti kelamin dari betina manjadi jantan.  
Induk Belut
Belut yang akan dipijahkan harus sehat, tidak cacat, pertumbuhan yang cepat, dan umur yang ideal untuk berkembang biak.  Pemilihan Induk Jantan dan Betina pada Belut.
Induk Betina :
- ukuran kurang dari 40 cm masih
berkelamin betina.
- Umur : belut yang berumur kurang dari 9 bulan masih berkelamin betina.
- Bentuk kepala : Belut betina memiliki ukuran kepala yang lebih kecil dan bentuknya runcing.
- Warna tubuh : belut betina warna tubuhnya lebih cerah, bening dan mulus.
- Perut: belut betina bila telah matang gonad dapat dengan mudah dikenali dari perutnya yang agak besar dan terlihat butiran-butiran telur pada perut.

Belut Jantan :
- Ukuran : untuk dijadikan induk jantan maka sebaiknya dipilih belut berukuran lebih besar dari 40 cm.
- Umur : belut yang dijadikan induk jantan harus  berumur lebih dari 9 bulan.
- bentuk kepala : kepala induk belut jantan bentuknya lebih besar dan tumpul
- warna : warna tubuhnya lebih gelap dan kulitnya terlihat lebih kasar.

Media Budidaya Belut
media pemeliharaan belut ini adalah media yang digunakan untuk pemeliharan benih, pembesaran, pemiliharan induk dan pemijahan.
media ini tersusun dari jerami, tanah, pelepah pisah, kompos, dedak dan air. kedalam budidaya belut anyara 40-100 cm.
dalam menyusun media ada hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
- bahan untuk media seperti pupuk kandang harus menggunakan kotoran hewan yang telah terdekomposisi selama beberapa bulan.
- bahan yang digunakan ketika proses fermentasi tidak menghasilkan gas-gas yang berbahaya.
- pada pemeliharaan belut aliran air yang masuk ke media pemeliharaan diupayakan air mengalir dengan pelan.
- media budidaya dapat mempengaruhi pertumbuhan belut. bila media budidaya terlalu dalam maka belut akan memiliki tubuh yang panjang dan bila media budidaya dangkal maka belut tubuhnya tidak terlalu panjang namun tubuhnya lebih gemuk. Konsumen umumnya menyukai belut yang tidak terlalu panjang namun lebih gemuk.
- untuk kedalaman air di atas media budidaya belut tidak lebih dari 5 cm. hal ini dimaksudkan agar belut tidak banyak bergerak sehingga akan tumbuh lebih cepat.